
Deposisi asam berawal dari kegiatan manusia baik dalam kegiatan rumah tangga maupun industri yang menghasilkanpolutan yang diemisikan ke udara. Polutan seperti oksida sulfur dan oksida nitrogen berubah menjadi asam sulfat dan asam nitrat melalui reaksi kimia yang kompleks, kemudian berpindah dari atmosfer ke permukaan bumi melalui deposisi langsung dan presipitasi, sehingga dikenal deposisi kering dan deposisi basah.
Deposisi basah terjadi dengan pembentukan awan dan akhirnya turun sebagai hujan, salju atau kabut yang mengandung asam. Ukuran keasaman ditunjukkan oleh nilai pH air presipitasi tersebut. Deposisi kering ditunjukkan dengan gas aerosol yang mengandung asam. Deposisi kering terjadi bila keadaan cuaca cerah atau berawan. Deposisi asam akan meningkatkan keasaman tanah, air danau yang kemudian akan mempengaruhi mahluk hidup, seperti tumbuhan dan ikan. Rata-rata tingkat keasaman (pH) air hujan selama lima tahun terakhir di berbagai daerah di Indonesia berkisar antara 4,8 hingga 5,8. Kondisi ini menunjukkan air hujan di sebagian besar wilayah Indonesia telah berada di bawah nilai pH air normal (5,6) atau telah mencerminkan sifat air hujan yang asam.
Beberapa daerah antara lain Lhokseumawe, Bukit Kototabang-Bukit Tinggi, Bengkulu, Denpasar, Ujung Pandang, Ambon mempunyai pH air hujan relatif masih mendekati nilai pH air normal, yakni sebesar 5,4 hingga 5,5 tetapi ada enam daerah yang derajat keasamannya telah berada di bawah nilai 5, yakni Tanjung Karang, Citeko Bandung, Surabaya, Palangkaraya dan Winangun. Hasil pemantauan di beberapa tempat menunjukkan
kecenderungan pengukuran keasaman terendah terjadi pada bulan-bulan permulaan tahun atau terjadi pada kondisi frekuensi hujan tinggi dan curah hujan tinggi, sedangkan
pada frekuensi terjadinya hujan rendah dengan curah hujan sedikit maka terjadi kenaikan konsentrasi deposisi yang cukup signifikan. Pada bulan ketujuh atau kedelapan biasanya terjadi kenaikan deposisi asam, kemudian menurun hingga permulaan tahun kembali pada hasil pengukuran terendah. Hal ini tercermin pada data pemantauan hingga tahun 2002. Pada tahun 2002 frekuensi terjadinya hujan lebih sedikit dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bulan Agustus, September dan Oktober 2002 paling jarang terjadi hujan.
Frekuensi turun hujan pada tahun 2001 berkisar 60 hingga 70 kali dan tahun 2002 hanya sekitar 60 kali. Hujan asam telah terjadi di kota Bandung sejak 3 tahun terakhir (1998-2000) yang ditunjukkan oleh pH air hujan yang berada dibawah angka normal 5,6. Hal ini erat kaitannya dengan peningkatan polusi udara yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya dan Semarang. Dari tahun 1985-2000 di daerah Terusan Pasteur Bandung telah terjadi penurunan pH sebesar 40% dari rata-rata tahunan yaitu 6,30 menjadi 3,80. Prediksi deposisi sulfur dari sumber industri, transportasi, gunung berapi dan pembangkit tenaga listrik di Indonesia tahun 2000 dilakukan dengan menggunakan model Resgen dan Rains Asia. Hasil prediksi pada tahun 2000 memperlihatkan bahwa Jakarta (Jabotabek), Bandung dan Halmahera Timur mempunyai deposisi sulfur 1000-2000 mg/m2-tahun, merupakan daerah yang perlu diwaspadai.
Daerah itu sangat berpotensi menerima hujan asam bila dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia atau menjadi penyebab daerah lain/sekitarnya terkena hujan asam dikarenakan pengaruh angin.
Curah hujan di berbagai tempat tidak merata oleh karena itu fenomena alam dan kegiatan manusia akan mengakibatkan kerusakan lingkungan yang berbeda di berbagai
tempat, hal ini dikenal sebagai isu global tentang air. Air permukaan (sungai, danau) setiap hari dan sepanjang waktu terus menerus mengalami proses alamiah, mengalami
penguapan, membentuk awan dan kembali jatuh ke bumi sebagai air hujan. Kondisi saat ini menunjukan bahwa awan juga mengikat senyawa sulfat dan nitrat yang berasal dari emisi antropogenik dan mengakibatkan terjadinya deposisi asam pada sistem perairan.
Akibat air hujan yang asam memang sulit dibuktikan. Tetapi secara teoritis air asam tersebut dapat membuat tanaman mudah mati karena mengurangi hasil perkecambahan dan
reproduksi tanaman dan meracuni tunas berikut akarnya.
Pada sistem akuatik (sungai, danau) air asam akan menetralisir basa-basa, menurunkan produksi dan pertumbuhan ikan berikut makanannya, menghancurkan insang dan mengganggu kontraksi otot ikan. Hujan asam juga akan merusak bangunan, karena kandungan sulfatnya bersifat korosif sehingga sangat berbahaya bagi struktur benda yang tak terlindungi. Asam juga merusak baja pada beton bertulang sehingga akan melemahkan gedung dan jalan. Cat dan karet juga akan memburuk karena oksidasi yang ditimbulkannya. Sementara bagi manusia, sedikit logam (timah atau tembaga) pada air minum dapat menyebabkan diare. Hujan asam juga dapat menimbulkan penyakit gatalgatal
serta menyebabkan atau memperburuk penyakit penapasan (seperti kanker paru-paru, bronkitis dan emphisema), berperan dalam kematian dini.
Nb. dari banyak sumber
Jumat, 05 Februari 2010
DEPOSISI ASAM
Post By
Thailand aik aik
at
00.17.00
0
komentar
Label: Deposisi Asam
Kamis, 04 Februari 2010
PERUBAHAN IKLIM

Iklim selalu berubah menurut ruang dan waktu. Dalam skala waktu perubahan iklim akan membentuk pola atau siklus tertentu, baik harian, musiman, tahunan maupun siklus
beberapa tahunan. Selain perubahan yang berpola siklus, aktivitas manusia menyebabkan pola iklim berubah secara berkelanjutan, baik dalam skala global maupun skala lokal.
Perubahan iklim didefinisikan sebagai perubahan pada iklim yang dipengaruhi langsung atau tidak langsung oleh aktivitas manusia yang merubah komposisi atmosfer, yang
akan memperbesar keragaman iklim teramati pada periode yang cukup panjang. Indikator-indikator yang dapat dirasakan dari perubahan iklim adalah adanya perubahan pola penyebaran curah hujan, pergeseran waktu datangnya musim hujan dan kemarau, bencana
kekeringan yang berkepanjangan serta bencana alam seperti banjir dan kebakaran hutan.
Penyebab dari perubahan iklim adalah meningkatnya konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) setelah masa revolusi industri. Semakin tinggi kebutuhan untuk meningkatkan kualitas hidup menyebabkan semakin besarnya aktivitas industri, penebangan hutan, usaha pertanian, rumah tangga dan aktivitas-aktivitas lain yang melepaskan GRK. Akibatnya
konsentrasi GRK di atmosfer meningkat. Perubahan konsentrasi GRK global ini juga berpengaruh pada kenaikan suhu lokal. Di Indonesia perubahan suhu terjadi secara perlahan-lahan lebih kurang 0,03oC per tahun (Hidayati 1990). Jika ditinjau dalam periode puluhan tahun (dibandingkan dengan puluhan juta tahun usia bumi kita) maka perubahan ini cukup besar. Apalagi jika kenaikan suhu menyertai kejadian iklim ekstrim. Walaupun Indonesia mempunyai hutan, lahan pertanian, dan lautan yang cukup luas tetapi menurut perhitungan yang dirangkum oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Indonesia merupakan Negara penghasil neto GRK.
Sebagai gambaran nyata, keragaman iklim besar seperti saat kejadian El-Nino dan La-Nina yang sering membawa keadaan kering dan basah yang lebih besar dari keadaan
normal, membuat sistem produksi tanaman pangan di Indonesia terganggu secara nyata. Keadaan anomali iklim pada tahun 1991 dan tahun 1994 menyebabkan Indonesia harus mengimpor beras masingmasing sebesar 600.000 ton dan lebih dari sejuta ton beras (Indonesia Country Study on Climate Change 1998). Keadaan tersebut menggambarkan kerentanan sistem produksi pertanian terhadap adanya perubahan iklim. Peningkatan CO2 dan suhu udara akan meningkatkan aktivitas fotosintesis pada tanaman. Tetapi peningkatan suhu terutama malam hari akan memperbesar respirasi tanaman. Di daerah tropis peningkatan suhu ini menyebabkan hasil fotosintesis netto berkurang. Inilah yang menyebabkan menurunnya produksi tanaman di daerah tropis akibat perubahan iklim.
Perubahan iklim akan mengganggu kelestarian keanekaragaman hayati. Beberapa jenis flora/fauna akan tertekan populasinya atau punah dan beberapa jenis lainnya akan
lebih berkembang. Penelitian kerentanan beberapa jenis flora/fauna menghadapi perubahan iklim di Indonesiamasih sangat kurang, sehingga belum didapatkan laporan
mengenai jenis-jenis yang akan tertekan dan jenis-jenis yang akan dominan.
Perubahan iklim, pada kondisi yang sangat kering merupakan salah satu faktor penyebab kebakaran hutan. Kekeringan diperkirakan akan lebih sering terjadi karena peningkatan suhu udara dan peningkatan peluang kejadian iklim ekstrem, sehingga peluang kebakaran hutan akan lebih tinggi.
Beradaptasi pada dampak perubahan iklim adalah salah satu cara penyesuaian yang dilakukan secara spontan atau terencana untuk bereaksi menghadapi perubahan iklim yang diprediksi atau yang sudah terjadi. Mitigasi adalah kegiatan jangka panjang yang dilakukan untuk menghadapi dampak dengan tujuan mengurangi risiko atau kemungkinan terjadi suatu bencana. Kegiatan lebih lanjut dari mitigasi dampak adalah kesiapan menghadapi bencana, tanggapan ketika bencana dan pemulihan setelah bencana terjadi
(Murdiyarso, 2001). Berbagai sektor akan terpengaruh oleh adanya perubahan iklim.
Indonesia tidak termasuk dalam negara katagori Annex I (negara-negara maju) menurut penggolongan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change). Menurut UU No 6 Tahun 1994, yaitu UU Pengesahan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, Indonesia tidak wajib ikut menekan emisi GRK, tetapi hanya bersifat suka rela. Menurut UU Lingkungan Hidup No. 23 Tahun 1997, menjaga kelestarian lingkungan hidup adalah suatu yang harus dilakukan agar pembangunan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Jadi upaya mengurangi laju emisi GRK menjadi keharusan dalam rangka melestarikan lingkungan.
Berikut antara lain dampak buruk akibat perubhan iklim dunia yang sedang kita hadapi dalam beberapa gambar :


NB. dari banyak sumber bacaan.
Post By
Thailand aik aik
at
23.53.00
0
komentar
Label: Perubahan Iklim
BAHAN PENCEMAR UDARA DAN KEBAKARAN HUTAN

1. Hidrokarbon
Hidrokarbon (HC) adalah bahan pencemar berasal dari emisi kendaraan bermotor. Menurut Statistik Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2001 besarnya emisi HC meningkat dari tahun 1999, 2000 sampai 2001, yaitu masing-masing 1.090.897,6 ton/tahun; 1.135.864,1 ton/tahun; dan 1.251.130,6 ton/tahun. Dari keempat jenis kendaraan bermotor yaitu mobil penumpang, bis, truk dan sepeda motor, emisi HC dari sepeda motor menempati urutan tertinggi yaitu masing-masing untuk tahun 1999, 2000 dan 2001 adalah
781.361,4 ton/tahun; 811.882,2 ton/tahun; dan 898.195,8 ton/tahun. Bahan pencemar HC dalam jumlah kecil dapat menimbulkan gangguan berpikir, gerakan otot
dan gangguan jantung.
2. Nitrogen Oksida
Pencemar nitrogen oksida (NOx) bisa berasal dari kendaraan bermotor atau industri. Sektor transportasi di perkotaan merupakan penyumbang terbesar pencemar NOx yaitu 69% dan diikuti oleh industri dan rumah tangga. Bahan pencemar ini menyebabkan iritasi saluran pernafasan, bronkhitis, dan juga dapat memicu serangan asma. Besarnya emisi NOx dari kendaraan bermotor menurut Statistik Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2001
meningkat dari tahun 1999, 2000 dan 2001 yaitu sebesar 605.315,1 ton/tahun; 630.266,1 ton/tahun; dan 694.224,9 ton/tahun. Dari keempat jenis kendaraan, sepeda motor menempati urutan teratas dalam perkiraan besarnya emisi ini yaitu 433.560,3 ton/tahun; 450.495,6 ton/tahun; dan 509.414,9 ton/tahun masing-masing untuk tahun 1999, 2000 dan 2001.
3. Karbon Monoksida
Karbon monoksida (CO) merupakan hasil pembakaran tidak sempurna kendaraan bermotor. Penyebarannya di udara lebih terpusat pada daerah sumber timbulnya pencemaran tersebut. Oleh karena itu CO merupakan masalah di kota-kota besar, di mana ruangan udara dibatasi oleh jalan-jalan dan gedung-gedung. Bahan pencemar CO pada manusia akan menimbulkan efek sistemik karena meracuni tubuh dengan cara pengikatan
haemoglobin yang sangat vital untuk membawa oksigen ke jaringan tubuh. Bila otak kekurangan oksigen dapat menimbulkan kematian.
Perkiraan besarnya emisi CO yang berasal dari kendaraan bermotor tahun 1999 sampai 2001 masing-masing 12.452.197,2 ton/tahun; 12.965.473,9 ton/tahun; dan 14.281.198,4 ton/tahun. Emisi CO paling tinggi berasal dari sepeda motor yaitu 8.918.955 ton/tahun; 9.267.338,3 ton/tahun; dan 10.479.377,9 ton/tahun, untuk tahun 1999, 2000 dan 2001. (Statistik Lingkungan Hidup Indonesia, 2001).
4. Sulfur Dioksida
Sulfur dioksida (SO2) adalah gas yang tidak berwarna, memedihkan mata (irritating), mudah larut dalam air dan reaktif. Gas ini dibentuk pada saat bahan bakar yang
mengandung sulfur (minyak, batu bara) dibakar terutama dari kegiatan industri. SO2 dapat mematikan dan menghambat pertumbuhan pepohonan, hasil produksi pertanian
dapat merosot, hutan-hutan menjadi kurang produktif sehingga akan mengurangi peranan hutan sebagai tempat rekreasi dan keindahan. Pada manusia dapat menimbulkan
efek iritasi pada saluran nafas sehingga menimbulkan gejala batuk dan sesak nafas. SO2 dihasilkan oleh kendaraan bermotor dan industri dan dapat menyebabkan hujan asam. Penyumbang pencemar SO2 terbesar adalah industri (76%) diikuti dengan transportasi (15%).
Perkiraan besarnya emisi SO2 yang berasal dari kendaraan bermotor menurut Statistik Lingkungan Hidup Indonesia (2001) pada tahun 1999, 2000 dan 2001 berurutan adalah 46.562,7 ton/tahun; 48.482 ton/tahun; 53.401,9 ton/tahun. Menurut jenis kendaraan bermotor, sepeda motor merupakan penyumbang terbesar emisi SO2 yaitu 33.350,8 ton/tahun; 34.653,5 ton/tahun; dan 39.185,7 ton/tahun untuk tahun 1999, 2000 dan 2001.
5. Debu
Debu yang bersumber dari gas buang kendaraan bermotor dapat menimbulkan dampak yang sangat berbahaya karena meracuni sistem pernafasan dan menimbulkan gangguan pembentukan darah merah. Pada anak kecil menimbulkan penurunan kemampuan otak, sedangkan pada orang dewasa menimbulkan anemia dan gangguan tekanan darah tinggi.
Perkiraan besarnya emisi debu dari kendaraan bermotor menurut Statistik Lingkungan Hidup Indonesia (2001) meningkat dari tahun 1999 sampai 2001 masing-masing yaitu 59.866,3 ton/tahun; 62.334 ton/tahun; dan 68.659,6 ton/tahun. Berdasarkan jenisnya, sepeda motor merupakan penyumbang terbesar emisi debu yaitu sebesar 42.879,6 ton/tahun; 44.554,5 ton/tahun; dan 50.381,6 ton/tahun untuk tahun 1999, 2000 dan 2001.
6. Timbal
Timbal (Pb) adalah logam berat yang sangat berbahaya dan merupakan peracun syaraf. Dampaknya merusak berbagai organ tubuh manusia, terutama sistem syaraf, sistem pembentukan darah, ginjal, sistem jantung dan sistem reproduksi (EPA, 1986). Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan teracuni Pb karena sistem otak dan sarafnya belum berkembang penuh, sehingga penyerapan timbal dibandingkan proporsi berat tubuh jauh lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Ada hubungan yang signifikan antara keberadaan Pb dalam darah dengan penurunan tingkat kecerdasan pada anak. Pb di udara ambien sekitar 80% akan terabsorbsi melalui sistem pernafasan tanpa teroksidasi terlebih dahulu. Jadi Pb dari emisi kendaraan bermotor terutama di kota besar yang tingkat kepadatan lalu lintasnya tinggi akan sangat merusak kesehatan. Untuk mengantisipasi keadaan tersebut telah dilakukan pemantauan dengan melakukan pengukuran kadar Pb di udara ambien di beberapa kota di Pulau Jawa dan Jabotabek.
Hasil pemantauan menunjukkan, kadar Pb telah terdeteksi di beberapa kota di Pulau Jawa walaupun secara umum masih berada di bawah baku mutu, yaitu sebesar 2 υg/m3 (PP No. 41 tahun 1999). Dari kelima lokasi tersebut terlihat kadar Pb tertinggi di Kota Surabaya (Gambar 3.9). Berdasarkan pengukuran Laboratorium Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan, Bapedal pada tahun 1994, tercatat konsentrasi Pb di udara Jakarta mencapai 2 υg/ m3. Pada tahun yang sama Inga Heize melakukan Assessment of Lead in School Children from Jakarta, mendapatkan Pb yang dilepas ke udara Jakarta mencapai 2 ton/hari..png)
Pada tanggal 3 Juni 2001, US Environment Protection Agency dan US Centers for Desease Control and Prevention bekerja sama dengan Bapedal dan difasilitasi oleh Swisscontact
melakukan penelitian kadar Pb dalam darah pada anak-anak di Jakarta. Tingkat partisipasi anak-anak dalam penelitian ini adalah 70,5% (423/600). Hasil penelitian
menunjukkan rata-rata geometris BLL (Blood Lead Levels) anak-anak tersebut adalah 8,6 υg/dL, 35% anak-anak mempunyai BLL > 10 υg/dL dan 2,4 % mempunyai BLL > 20 υg/dL. Sekitar seperempat jumlah anak-anak mempunyai BLL antara 10-15 υg/dL. Rata-rata tingkat haemoglobin adalah 13,1 g/dL. Dari 397 anak-anak yang diteliti tersebut,
ditemukan 8,2% menderita anemia ringan Hb<11,5 g/dL) dan 0,3% anak-anak anemia berat (Hb<7 g/dL).
Prediktor dari BLL setelah disesuaikan usia dan jenis kelaminnya adalah tingkat pendidikan dari pengasuh utama anak tersebut, sumber air minum dan cat/vernis rumah.
BLL akan menurun dengan semakin tingginya tingkat pendidikan pengasuh anak. Anak-anak yang tinggal di rumah di mana airnya diperoleh dari sumber air lain, bukan dari PAM atau dari sumur mempunyai BLL yang lebih rendah dari anak-anak yang memperoleh air minum dari sumber PAM. BLL pada anak-anak dalam penelitian tersebut cukup tinggi dan konsisten dengan BLL anak-anak di negara-negara yang menggunakan bensin bertimbal. Tingkat prevalensia anemia sangat rendah dibandingkan prevalensi yang ditemukan dalam penelitian di negara-negara berkembang lain.
BLL yang cukup tinggi dalam penelitian tersebut menunjukkan program penghapusan bensin bertimbal di Jakarta harus diteruskan. Dengan dihapusnya bensin bertimbal, BLL anakanak Jakarta diharapkan akan menurun dengan cepat seperti yang terjadi di negara-negara lain yang sudah menghapus bensin bertimbal.
D. KEBAKARAN HUTAN
Asap akibat kebakaran hutan tidak hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga transportasi darat (arus lalu lintas), transportasi laut (angkutan sungai), dan transportasi udara (kegiatan penerbangan). Angkutan sungai dari dan ke pelosok
pedalaman Kalimantan yang melayani penduduk untuk mensuplai bahan bakar minyak dan sembilan bahan pokok berhenti total dan tertahan di dermaga-dermaga karena
terhalang kabut asap. Kabut asap juga mengganggu penerbangan karena jarak pandang hanya 100-400 meter. Beberapa bandara ditutup sementara atau mengubah jadwal
penerbangannya karena jarak pandang yang aman bagi pendaratan minimum 800 meter. Pemerintah daerah menyarankan pengguna transportasi darat pada siang hari
menyalakan lampu kendaraan, terutama di pagi hari untuk menghindari terjadinya kecelakaan lalu lintas dan menggunakan masker bila hendak keluar rumah.
Berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara di Kota Palangkaraya selama periode kebakaran hutan, yaitu pada bulan Juli sampai dengan November 2002, terlihat
peningkatan pencemaran udara pada bulan September dan Oktober, hal ini terutama peningkatan konsentrasi PM-10 dan CO.
Data PM-10 pada bulan September 2002 mencapai 1649 υg/m3, dan konsentrasi CO pada bulan Oktober 2002 mencapai 20,78 mg/m3, angka tersebut menunjukkan konsentrasi yang tinggi, jauh melebihi standar yang ditetapkan untuk udara yaitu 150 υg/m3 untuk PM-10
dan 10 υg/m3 untuk CO.
Berdasarkan rekapitulasi data ISPU dengan parameter kritis PM-10, menunjukkan bahwa kondisi kualitas udara memburuk pada bulan Februari-Maret 2002 di Pekanbaru
dan Medan dengan nilai ISPU mencapai 165 (Pekanbaru) dan 194 (Medan). Sehingga kondisi rata-rata kualitas udara pada periode ini dikategorikan tidak sehat.
Partikel PM 10 yang berdiameter 10 mikron memiliki tingkat kelolosan yang tinggi dari saringan pernafasan manusia dan bertahan di udara dalam waktu cukup lama. Tingkat bahaya semakin meningkat pada pagi dan malam hari karena asap bercampur dengan uap air. PM 10 tidak terdeteksi oleh bulu hidung sehingga masuk ke paruparu. Jika partikel tersebut terdeposit ke paru-paru akan menimbulkan peradangan saluran pernapasan, gangguan penglihatan dan iritasi kulit. Sementara jika CO masuk ke dalam pernapasan dan bereaksi dengan Hb (hemoglobin) dalam darah dapat menghambat fungsi normal Hb untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh. Gejala keracunan CO berupa sesak
napas dan karena kekurangan oksigen juga dapat menyebabkan kematian.
Bahan partikel halus dengan ukuran kurang dari 10 mikro meter dapat meningkatkan jumlah dan keparahan penyakit saluran pernapasan, hingga menyebabkan kematian.
Penderita ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) di Kota Palangkaraya pada musim kemarau mengalami peningkatan cukup tajam. Dari data Dinas Kesehatan Kota
Palangkaraya, penderita ISPA pada Mei 2002 sebanyak 1.896 orang. Sementara anak-anak di bawah usia lima tahun (balita) pada bulan yang sama jumlah penderitanya sebanyak 548 orang. Pada bulan Juni 2002 jumlah pasien meningkat menjadi 2.051 orang dan sebanyak 622 orang balita, dan di bulan Agustus sebanyak 2.051 orang terserang ISPA (Data Dinas Kesehatan Kota Palangkaraya dalam Media Indonesia 1 Agustus 2002).
Asap kebakaran lahan, hutan dan semak belukar di Palangkaraya juga mengakibatkan dua orang balita meninggal akibat ISPA (Suara Pembaharuan, 29 Agustus 2002) 
Pencemaran udara akibat kebakaran hutan di Palangkaraya ini juga mengakibatkan 8.000 ekor ayam mati, sehingga menimbulkan kerugian yang besar bagi peternak ayam pedaging di kota tersebut (KOMPAS, 29 Agustus 2003). Selama bulan Agustus 2002 sebanyak
6.701 jiwa warga kota Pontianak terkena penyakit ISPA, atau setiap hari ada 231 orang yang terkena penyakit tersebut . Korban kabut asap di Pekanbaru terdiri dari berbagai
usia. Para korban tersebut selain menderita serangan asma dan ISPA juga terserang penyakit mata, muntah-muntah dan diare (Data RSUD Pekanbaru, dalam Inter Press ervice Asia Pacific, 2002). Dalam jangka pendek serangan asap bisa menimbulkan iritasi saluran napas seperti pharingitis, laringitis, trakeitis dan bronkitis akut atau kronik. Sementara dalam jangka panjang bahan polutan yang bersifat iritasi akan menimbulkan fibrosis karsinogenik yang menyebabkan berkembangnya penyakit kronik, emfisema, asma, kanker paru dan pneumokoniosis.
Nb. Dari banyak sumber bacaan.
Post By
Thailand aik aik
at
23.37.00
0
komentar
Label: Bahan Pencemar Udara
PENCEMARAN UDARA

A. PENCEMARAN UDARA DARI SUMBER BERGERAK
Kegiatan transportasi memberikan kontribusi sekitar 70% terhadap pencemaran udara di kota-kota besar. Di Jakarta dan sekitarnya (Jabotabek) jumlah kendaraan bermotor
tahun 2000 menurut Polda Metro Jaya-POLRI telah mencapai 4.159.442 unit yang didominasi oleh jenis kendaraan mobil penumpang. Di Bandung jumlah kendaraan bermotor untuk tahun 2000 mencapai 588.640 unit. Jumlah kendaraan tersebut belum termasuk kendaraan yang datang ke Bandung pada setiap akhir pekan sebanyak 10-25%.
Kendaraan bermotor yang beroperasi di Indonesia sampai akhir tahun 2001 berjumlah 20,78 juta unit yang terdiri dari 3,1 juta unit mobil penumpang (15%), 684 ribu unit bis (3%), 1,75 juta unit truck (9%), 15,2 juta unit sepeda motor (73%). Meningkatnya jumlah kendaraan bermotor yang cukup berarti dari tahun ke tahun mengakibatkan terjadi penurunan kualitas udara ambien yang diakibatkan gas buang yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor tersebut.
Walaupun jumlah kendaraan bermotor setiap tahun selalu bertambah (Tabel 3.1), namun panjang jalan baik jalan negara, propinsi maupun kabupaten relatif tidak berubah
(Tabel 3.2). Hal inilah menjadi penyebab terjadinya kemacetan di jalan raya yang pada akhirnya menambah parahnya pencemaran udara setempat. Faktor yang mempengaruhi tingginya pencemaran udara dari kendaraan bermotor adalah pesatnya pertambahan
jumlah kendaraan bermotor, rendahnya kualitas bahan bakar minyak (BBM) dan masih digunakannya jenis bahan bakar minyak mengandung Pb, penggunaan teknologi
lama (sistem pembakaran) pada sebagian besar kendaraan bermotor di Indonesia dan minimnya budaya perawatan kendaraan secara teratur. Kondisi tersebut ditambah oleh buruknya manajemen lalu lintas yang berakibat inefisien dalam pemakaian BBM.
Bahan bakar kendaraan bermotor di Indonesia didominasi oleh premium dan solar. Bahan bakar premium sebagian besar belum ramah lingkungan karena masih menggunakan
Pb sebagai peningkat angka oktan yang menjadi penyumbang terbesar pencemaran udara.
B. PENCEMARAN UDARA DARI SUMBER TIDAK BERGERAK
1. Industri
Sektor industri merupakan penyumbang pencemaran udara setelah kendaraan bermotor, melalui penggunaan bahan bakar fosil untuk pembangkit tenaga. Salah satu penyebab meningkatnya pencemaran udara di Indonesia adalah urbanisasi dan industrialisasi yang tumbuh dengan cepat tetapi tidak dibarengi dengan pengendalian pencemaran yang memadai dan efisien dalam penggunaan bahan bakar fosil.
2. Rumah Tangga
Penggunaan bahan bakar fosil dan kayu di rumah tangga ikut menyumbang pencemaran udara dari sumber tidak bergerak meskipun tidak sebesar kontribusi pencemaran
industri.
3. Kebakaran Hutan
Pada dasarnya, hutan hujan tropis Indonesia bersifat selalu basah dan hijau sehingga tidak mudah terbakar secara alami. Musim kemarau berkepanjangan, ulah dan kelalaian
manusia, penebangan liar, membuka lahan dengan cara membakar, dan masyarakat pendatang yang tidak tahu cara penanganan lahan menjadi akar permasalahan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun merupakan penyumbang terjadinya pencemaran udara di beberapa propinsi seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung, serta negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Asap pekat dari kebakaran hutan menjadi bahan pencemar udara.
Sebagai hasil dari proses pembakaran, di dalam asap terkandung campuran gas-gas dan partikel-partikel yang mengancam kesehatan manusia dan menambah jumlah gas rumah kaca di atmosfer.
Asap akibat kebakaran hutan telah mengganggu kesehatan masyarakat, terutama masyarakat rentan seperti orang lanjut usia, ibu hamil, dan anak-anak bawah lima
tahun (balita). Gangguan kesehatan, antara lain, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), asma bronkial, bronkhitis, pnemonia (radang paru), iritasi mata dan kulit.
C. SISTEM PEMANTAUAN KUALITAS UDARA
Untuk dapat memberikan kemudahan dan keseragaman informasi tentang kualitas udara ambien kepada masyarakat di suatu lokasi dan waktu tertentu, serta sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan upaya pengendalian pencemaran udara, telah ditetapkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 45 Tahun 1997. Secara umum definisi ISPU adalah angka yang tidak
mempunyai satuan yang menggambarkan kondisi kualitas udara ambien di lokasi dan waktu tertentu yang didasarkan dampaknya pada kesehatan manusia, mahluk hidup lainnya, dan nilai estetika.
Nilai ISPU diperoleh dari perhitungan angka konsentrasi lima senyawa pencemar udara yang diukur oleh Stasiun Pemantau Kualitas Udara Ambien. Lima senyawa pencemar udara itu adalah PM10, CO, SO2, NO2, dan ozon (O3). Rentang nilai ISPU ditentukan berdasarkan efek kesehatan potensial yang bisa timbul. Hasil pemantauan kualitas udara di 10 kota di Indonesia, dari 33 stasiun permanen dan sembilan stasiun bergerak/mobil, pada tahun 2002, menunjukkan kategori baik dan sedang. Pada saat kebakaran hutan dan lahan di Pontianak, Palangka Raya dan Pekanbaru terdeteksi
kategori tidak sehat, sangat tidak sehat dan berbahaya dengan parameter kritis PM10 (Gambar 3.2). Kondisi kualitas udara kembali memburuk pada periode Juli-Oktober 2002 akibat pencemaran asap yang terjadi secara terus-menerus yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Di Medan dan Pekanbaru nilai ISPU meningkat pada bulan Juli-Agustus dan dikategorikan sedang hingga tidak sehat. Sedangkan wilayah Kalimantan nilai ISPU meningkat tajam pada bulan Juli-Oktober terutama di Palangkaraya dan Pontianak. Rata-rata kualitas udara di Pontianak dan Palangkaraya dikategorikan berbahaya. Nilai ISPU tertinggi di Palangkaraya mencapai 1353 (September) dan 1251 (Oktober). Nilai ISPU tertinggi di Pontianak mencapai 842 (Juli) dan 743 (Agustus), sedangkan data ISPU pada bulan September hingga Oktober tidak tersedia karena alat pemantau rusak.
NB. dari berbagai sumber
Post By
Thailand aik aik
at
22.42.00
0
komentar
Label: Polusi Udara
Minggu, 13 Desember 2009
KAJIAN INTRUSI AIR LAUT
Muhammad Fahri, S.Pi *)
Mahasiswa Pasca Sarjana Biotek Perikanan UB Malang
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada dekade terakhir ini telah terjadi pertumbuhan penduduk yang sangat pesat di dunia, dan hal tersebut menyebabkan eksploitasi air bawah tanah terus meningkat dengan pesat. Fenomena ini telah menyebabkan dampak negatif terhadap kuantitas maupun kualitas Air bawah tanah, antara lain penurunan muka Air bawah tanah, penurunan kualitas air bawah tanah, serta terjadinya intrusi air laut di beberapa wilayah.
Kawasan Sanur dan sekitarnya kini terancam intrusi air laut hingga 1,2 km dari lidah ombak atau gelombang air laut yang sampai di daratan, akibatnya pada kawasan tersebut kebutuhan air tawar makin berkurang. Normalnya, instruksi air laut terjadi pada radius 300 meter. Tak hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, penggunaan air bawah tanah (ABT) kian tak mampu dikendalikan dengan makin minimnya pasokan air yang dikelola PDAM. “Bahkan PDAM pun ada yang mengunakan ABT untuk memenuhi pasokan (pdpersi 18 Oktober 2000).
Daerah Semarang bagian utara penyusupan air asin semakin meningkat sejak beberapa tahun terakhir, terutama pada daerah pemukiman pusat perkotaan, dan di beberpa wilayah industri di bagian utara, misalnya daerah sekitar Muara Kali Garang, Tanah Mas, Pengapon, Simpang Lima. Data penyusupan air asin tersebut diatas adalah berdasarkan hasil pemantauan dari beberapa sumur gali penduduk yang tersebar, maupun dari kualitas sumur bor di beberapa tempat. Didaerah Semarang penyusupan air asin ini diperkirakan sudah mencapai sejauh 2 km ke arah selatan garis pantai. Daerah Kendal penyusupan air asin, dideteksi di utara Kaliwungu, Murorejo, Kumpulrejo sampai sekitar Sukolilan. Sumur bor yang dikelola oleh PDAM Kendal yakni diKamp Pegandon air bawah tanahnya sudah dipengaruhi oleh penyusupan air asin, yang diperkirakan berasal dari aliran air sungai K. Bodri, akibat kurang sempurnanya sistem konstruksi sumurbor. Nilai (DHL) air sumur bor tersebut melebihi 2000 umhos/cm, dengan jarak lokasi sumur bor dari garis pantai kurang lebih 5 km (Sinar harapan 4 juni 2007)
Wuryanti, (2000) menyebutkan bahwa dari hasil uji pada 83 titik sampel air tanah yang dilakukan oleh Dinas Pertambangan daerah Surabaya tahun 1996 menunjukkan bahwa luas kawasan intrusi air laut wilayahnya justru lebih besar dibanding kawasan yang belum terintrusi, sebagian besar barat laut, utara, timur dan barat daya kota Surabaya sudah mengalami intrusi air laut. Selain itu sebagian kawasan tengah dan selatan Surabaya kadar garamnya cukup tinggi juga. Hal ini kemungkinan disebabkan karena hasil sedimentasi (connate water) atau intrusi air. Luas wilayah yang kadar garamnya melampaui standar air minum adalah 22.814 Ha atau 78,54%, sedangkan luas wilayah yang airnya masih tawar seluas 6.235 Ha atau 21,46%. Data tersebut menunjukkan bahwa penataan ruang di kota Surabaya perlu diperhatikan mengingat perkembangan kota Surabaya semakin pesat.
Hasil penelitian Direktorat Geologi dan Tata Lingkungan menyebutkan, intrusi air laut kini hampir merata di seluruh wilayah Jakarta. Wilayah dalam radius 10-15 kilometer di Ibu Kota pada umumnya telah dilanda intrusi air laut. Misalnya, air laut telah merasuk ke daerah Kebun Jeruk (Jakarta Barat) dan wilayah Segi Tiga Emas Setiabudi, Kebayoran Baru, Cengkareng, Senen (Jakarta Pusat) dan daerah Monas. Padahal, 20 tahun lalu luas daratan yang terkena intrusi air laut baru sekitar dua kilo meter dari garis pantai, khususnya di daerah Kota (kompas 8 Juli 2004)
Adanya intrusi air laut ini merupakan permasalahan pada pemanfaatan air bawah tanah di daerah pantai, karena berakibat langsung pada mutu air bawah tanah. Air bawah tanah yang sebelumnya layak digunakan untuk air minum, karena adanya intrusi air laut, maka terjadi degradasi mutu, sehingga tidak layak lagi digunakan untuk air minum.
Dengan demikian perlu dilakukan upaya nyata dan terpadu untuk meminimalkan dampak negatif tersebut, baik oleh pemerintah, masyarakat maupun swasta.
Kondisi Air tanah dan Intrusi Air Laut
Sebagian besar kondisi air tawar di beberapa daerah pantai di Indonesia telah tercemar oleh intrusi air laut. Intrusi ini tidak hanya tersebar di kawasan dekat pantai saja, tetapi sudah tersebar pula sampai jauh ke arah pedalaman. Intrusi air laut telah terdeteksi di daerah pantai Jakarta, Semarang, Denpasar, Medan dan daerah-daerah pantai lainnya, dimana telah terjadi pemanfaatan air bawah tanah secara berlebihan.

Air tanah terdiri atas air tanah tertekan dan air tanah yang tidak tertekan. Air tanah tertekan, adalah air tanah yang dibatasi oleh dua lapisan kedap air dan mempunyai tekanan naik ke atas, misalnya air sumur artesis dan air bron (spring) : Sumur artesis ada yang positif (airnya menyembur ke atas permukaan tanah) dan ada pula yang negatif (airnya dapat naik tetapi tidak sampai mencapai permukaan tanah) : Air tanah tak tertekan, adalah air tanah yang dekat permukaan tanah yang tidak mempunyai tekanan untuk naik, sehingga harus dipompa atau ditimba, misalnya sumur pompa dangkal, sumur pompa dalam dan sumur gali (Wuryanti, 2000)
Intrusi atau penyusupan air asin ke dalam akuifer di daratan pada dasarnya adalah proses masuknya air laut di bawah permukaan tanah melalui akuifer di daratan atau daerah pantai. Dengan pengertian lain, yaitu proses terdesaknya air bawah tanah tawar oleh air asin/air laut di dalam akuifer pada daerah pantai (Hendrayana, 2002)
Penyebab terjadinya intrusi air laut
Kenaikan Permukaan Laut.
Menurut Dahuri dkk (2004), Perubahan permukaan air laut dapat terjadi secara alami oleh :
•Pengaruh eustatik (naik turunnya muka laut karena faktor mencairnya es dikutub) secara global yang berkaitan dengan perubahan glacial.
•Fenomena laut/iklim seperti El Nino Southern Ocillation (ENSO) yang menaikan muka laut di pesisir pasifik Amerika Latin secara bersamaan dengan menurunkan muka laut di Pasifik barat.
•Pembentukan cekungan geologis yang lebar dan dangkal.
Penurunan muka air bawah tanah atau bidang pisometrik di daerah pantai.
Pemanfaatan air bawah tanah yang terus meningkat menyebabkan penurunan muka air bawah tanah yang cukup signifikan. Hasil rekaman muka air bawah tanah pada sumur-sumur pantau di daerah pengambilan air bawah tanah secara intensif, seperti: Cekungan Jakarta, Bandung, Semarang, Pasuruan, Mojokerto menunjukkan kecenderungan muka air bawah tanahnya yang terus menurun (Sinar harapan 4 Juni 2007)
Pemompaan air bawah tanah yang berlebihan di daerah pantai.
Daerah pantai adalah daratan yang berbatasan langsung dengan lautan. Pada umumnya air tanah pada daerah pantai terpengaruh oleh intrusi air laut. Proses intrusi makin panjang bila dilakukan pengambilan air tanah di daerah pantai dalam jumlah berlebihan. besarnya debit pemompaan berpengaruh secara signifikan terhadap panjang intrusi yang terjadi. Makin besar debit pemompaan yang dilakukan pada sumur menunjukkan peningkatan panjang intrusi yang akan terjadi (kompas 8 Juni 2004).
Masuknya air laut ke daratan melalui sungai, kanal, saluran, rawa, atau pun cekungan lainnya.
penebangan pohon bakau, penggalian karang laut untuk dijadikan bahan bangunan dan kerikil jalan. Pembuatan tambak udang dan ikan yang memberikan peluang besar masuknya air laut jauh ke daratan (Harian Aceh 2007)
Mekanisme Intrusi Air Laut
Hubungan antara air laut dengan air bawah tanah tawar pada akuifer pantai pada keadaan statis dapat diterangkan dengan hukum Ghyben - Herzberg. Dengan adanya perbedaan berat jenis antara air laut dengan air bawah tanah tawar, maka bidang batas (interface) tergantung pada keseimbangan keduanya (Hendrayana, 2002)

Pada gambar 1 terlihat bahwa pada kondisi statis tinggi permukaan air laut dan permukaan air bawah tanah dalam keadaan seimbang, sehingga tidak terjadi pergeseran bidang atas (interface), namun pada kondisi yang dinamis seperti terjadinya kenaikkan permukaan air laut atau penurunan muka air bawah tanah menyebabkan terjadinya perembesan air laut ke arah daratan sehingga terjadi peningkatan bidang atas air laut (salt water interface). Keadaan ini yang disebut dengan intrusi air laut. Atau dengan kata lain Intrusi air laut terjadi karena keseimbangan hidrostatik antara air bawah tanah tawar dan air bawah tanah asin di daerah pantai terganggu, sehingga terjadi pergerakan air bawah tanah asin/air laut ke arah darat.
Proses intrusi air laut
Leboeuf, (2000) mengemukakan bahwa proses intrusi air laut terjadi melalui beberapa cara yaitu :
a)pergeseran batas air laut dan air tawar (interface) di daerah pantai. Pergesaran ini terjadi karena pengambilan air tanah berlebihan sehingga menurunkan muka air tanah.
b)pemompaan air tanah yang berlebihan di daratan. Akibat pemompaan yang berlebihan air yang tersedot bukan air tawar lagi tetapi air asin. Akibatnya air asin yang tersedot akan menyebar dan mencemari air tanah bebas di sekitar pemompaan. Adanya pori-pori tanah yang berlubang, menyebabkan air laut masuk ke daratan. Hal itu terjadi karena air tanah yang dipompa keluar terlalu besar dan ruang kosong atau pori-pori ini diisi oleh air laut. Dampaknya, air di daratan yang selama ini tawar menjadi payau
c)intrusi melalui muara sungai. Intrusi air laut pada air sungai menyebabkan air berkadar garam tinggi ini bergerak dan mengisi air tanah disekitarnya. Akibatnya air tanah di sekitar sungai berkadar garam tinggi juga.
Penentuan intrusi air laut pada akuifer pantai.
Menurut Hendrayana, (2002) Penyusupan air asin/air laut pada akuifer pantai, mengakibatkan perubahan komposisi kimiawi air bawah tanah. Perubahan ini dapat terjadi dengan cara :
1. Reaksi antara air laut dengan mineral-mineral yang terdapat dalam akuifer.
2. Reaksi sulfat dan penambahan karbon atau asam lemah yang lain.
3. Terjadi pelarutan dan pengendapan.
Perubahan total hanya terjadi pada item yang ketiga, yaitu terjadinya pelarutan dan pengendapan. ini akan diketahui, bahwa ion Cl dan Na lebih dominan pada air laut, sedang pada air bawah tanah tawar ion yang dominan adalah CO3 dan HCO3. Komposisi kimiawi air bawah tanah akan bertambah dengan kandungan ion Cl. Untuk mengetahui adanya penyusupan tersebut dapat ditentukan dengan analisis kimia yang disebut perbandingan klorida bikarbonat ("Chlorida Bicarbonate Ratio") ;
yaitu = Cl Satuan bjp
CO + HCO
Contoh kasus di California menunjukkan, bahwa : Harga perbandingan klorida bikarbonat ("Chlorida Bicarbonate Ratio")
= 1/2 adalah air bawah tanah tawar.
= 1,3 terjadi pengaruh air laut sedikit.
= 2,8 terjadi pengaruh air laut sedang.
= 6,6 terjadi pengaruh air laut agak tinggi.
= 15,5 terjadi pengaruh air laut tinggi.
= 200 adalah air laut.
Untuk salinitas air tanah akibat intrusi air laut, Todd (1959) mengklasifikasikan air tanah atas enam tingkat instrusi air asin yaitu :
1) Tanpa intrusi. Nisbah Cl/(CO3+HCO3) <>1500 - <> 5000 - <> 15000 - <> 50000 umhos/cm), dan Klorida air tawar (<> 500 - <> 2000 - 5000 mg/l), air asin (> 5000 – 19000 mg/l), brine (> 19000 mg/l).
Permasalahan, dan Pencegahan
Permasalahan
Permasalahan yang timbul dengan adanya intrusi air laut adalah :
• Rusaknya air tanah yang tawar dan berganti menjadi asin.
Penggunaan air tanah yang telah mengalami intrusi untuk dikonsumsi maupun kegiatan lain seperti mandi, dapat mengganggu kesehatan. Karena air ini telah mengandung NaCl (Natrium Chloride) yang tinggi dan dapat mengganggu metabolisme yang terjadi di dalam tubuh manusia. Penggunaan air payau untuk dikonsumsi dapat menyebabkan seseorang terkena penyakit perut seperti diare. Sedangkan bila digunakan untuk mandi, dapat memicu munculnya penyakit kulit, seperti gatal-gatal. Untuk jangka panjang, bukan tidak mungkin orang yang mengkonsumsi air payau tersebut akan mengalami gangguan penyakit serius karena metabolismenya terganggu dan sensivitas tubuhnya untuk menerima air payau yang mengandung garam tersebut.
• Menurut Leboeuf, (2000) Intrusi air laut ke daratan akan mempengaruhi sifat fisik dan kimia tanah, yaitu
1] tekanan osmotik yang meningkat,
2] peningkatan potensi ionisasi,
3] infiltrasi tanah yang menjadi buruk,
4] kerusakan dan terganggunya struktur tanah,
5] permeabilitas tanah yang buruk,
6] penurunan konduktivitas.
• Peningkatan salinitas tanah di daerah – daerah yang semula tidak terpengaruh.
• Kemunduran ke arah darat batas antara perairan tawar dan payau
• Perubahan fisik batas perairan darat
• Perubahan vegetasi yang tumbuh
• Perubahan profil dasar pantai.
Menurut Dahuri dkk (2004) Perubahan profil dasar pantai akan mengubah regim arus dan gelombang sehingga pola erosi dan pengendapan serta distribusi tipe substrat subtidal juga berubah. Perubahan substrat akan mengubah pola distribusi organism bentos, sedangkan perubahan arus pesisir akan mengubah pola rekruitmen populasi organism bentos dan demersal.
• Pada sungai-sungai yang telah terjadi intrusi, dapat menyebabkan hilangnya jenis-jenis biota tertentu, karena mengalami kematian atau bermigrasi ke daerah hulu karna tidak mampu beradaptasi dengan perubahan kadar garam yang tinggi,
Pencegahan Intrusi
• Melindungi pantai dengan vegetasi mangrove. Kawasan Pantai memiliki fungsi Sebagai sistem penyangga kehidupan. Sebagai daerah pengontrol siklus air dan proses intrusi air laut, keberadaan vegetasi di wilayah Pantai akan menjaga ketersediaan cadangan air permukaan yang mampu menghambat terjadinya intrusi air laut ke arah daratan. Kerapatan jenis vegetasi di sepanjang pantai dapat mengontrol pergerakan material pasir akibat pergerakan arus setiap musimnya. daun mangrove mampu menyerap unsur Na, Cl dan Mg melalui sistem perakarannya yaitu: akar nafas, akar lutut atau akar banir dan akar tunjang, sehingga mekanisme tersebut akan dapat mencegah intrusi (perembesan) air laut masuk ke lapisan tanah di daratan (Dahuri dkk, 2004)
• Meningkatkan kandungan air tanah yaitu membangun hutan lindung kota pada daerah resapan air tanah dengan tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi yang rendah. Tanaman yang mempunyai daya evapotrnspirasi yang rendah antara lain: cemara laut (Casuarina equisetifolia), Ficuselastica, karet (Heveabra siliensis), manggis (Garcinia mangostana), bungur (Lagerstroemia speciosa), Fragraea fragrans dan kelapa(Cocosnucifera) (WALHI Bengkulu 15 Agustus 2007)
Pengendalian intrusi air laut pada akuifer pantai
Menurut Hendrayana (2002), Pengendalian intrusi air laut pada akuifer pantai dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain :
1. mengurangi pemompaan di daerah pantai.
Pemompaan air bawah tanah yang berlebihan akan menggangu kesetimbangan, sehingga muka air bawah tanah atau bidang pisometrik akan turun dan dengan mudah air laut mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh air bawah tanah tawar, maka dapat terjadi penyusupan tersebut.
2. Membuat pengisian air bawah tanah secara buatan.
Pengisian air bawah tanah secara buatan dilakukan dengan cara memasukkan kembali air yang ada di permukaan ke dalam akuifer dengan melalui beberapa metoda, antara lain dengan cara :
• Spreading
• Sumur pengisian atau sumur injeksi
Cara Spreading adalah cara pengisian air bawah tanah secara buatan yang dilakukan dengan cara menyebarkan kelebihan air permukaan melalui parit-parit yang dibuat di daerah pantai, sehingga melalui parit tersebut terjadi penambahan air bawah tanah.
Cara sumur injeksi adalah cara pengisian air bawah tanah secara buatan dengan membuat sumur dalam yang menembus akuifer dan menginjeksi atau memasukkan air permukaan ke dalam akuifer tersebut.
3. Memompa air laut yang terletak pada akuifer pantai.
Dilakukan dengan cara pemboran di daerah pantai dan pada akuifer yang berisi air asin dikonstruksi/dipasang pipa saringan seperti halnya konstruksi sumur produksi biasa. Bedanya, pada kasus ini yang dipompa adalah air asin, dan dengan keluarnya air asin, maka air bawah tanah tawar akan mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh air asin, akibatnya bidang batas antara air asin dan air bawah tanah tawar pada akuifer tersebut bergeser ke arah laut.
4. Membuat Penghalang di bawah tanah di daerah pantai.
Penghalang yang dibuat dengan tujuan untuk menjaga tekanan pematang air bawah tanah yang dekat atau sejajar dengan pantai, tetap berada di atas muka laut, sehingga tidak terjadi pendesakan air bawah tanah tawar oleh air asin. Penghalang ini dapat dibuat dengan :
• Menyebarkan air tawar di permukaan dan air tersebut akan meresap ke dalam tanah, sehingga di bawah tempat penyebaran air tawar tersebut akan menjadi tinggi seolah-olah seperti penghalang.
• Menginjeksi air tawar ke dalam akuifer di tepi pantai.
5. Pengendalian penggunaan air tanah dengan melaksanakan penghematan atau membatasi penggunaan airtanah.
6. Pemantauan terhadap penggunaan air tanah harus dilakukan oleh semua pihak yang terkait baik masyarkat, dunia usaha dan pemerintah, sehingga semuanya menyadari pentingnya fungsi, peran dan keberadaan air tanah.
7. Penetapan zona konservasi air tanah dengan membagi wilayah-wilayah yang boleh, boleh tetapi dengan perlakuan khusus, dan tidak boleh dimanfaatkan air tanahnya, merupakan suatu langkah yang sangat tepat, Tetapi dalam pelaksanaannya perlu dibarengi dengan disiplin, sanksi dan peraturan yang mengikat semua pihak dan aspek kehidupan.
8. Pengalihan fungsi lahan terbuka hijau atau lahan-lahan yang berfungsi sebagai daerah resapan air hendaknya tidak terjadi lagi, karena selain dapat menghambat proses peresapan air ke dalam tanah, juga dapat meningkatkan penguapan air dan memperbesar air larian.
9. Penyuluhan akan pentingnya arti dan peran keberadaan airtanah sebagai bagian dari siklus hidrologi, sehingga penggunaannya harus dihemat, efektif dan efisien dapat dilakukan meialui lembaga-lembaga social masyarakat, sekolah, Ulama, dan pertemuan-pertemuan yang sifatnya informal yang dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat setempat.
KAJIAN INTRUSI AIR LAUT
Intrusi air laut telah terdeteksi di daerah pantai Jakarta, Semarang, Surabaya, Bali, Medan dan daerah-daerah pantai lainnya, penyebab intrusi ini sebagian besar disebabkan oleh pemanfaatan air tanah yang berlebihan di daerah-daerah pantai sehingga terjadi penurunan muka air bawah tanah tawar dan perembesan atau menyusupnya air bawah tanah laut ke arah daratan. Sementara Intrusi air laut yang disebabkan oleh kenaikan permukaan air laut akibat fenomena alam seperti pengaruh eustatik, pembentukan cekungan geologis yang lebar dan dangkal dan El Nino Southern Ocillation (ENSO) masih belum memberikan dampak yang serius di Indonesia dibanding dengan intrusi laut karena pemanfaatan air bawah tanah yang berlebihan.
Perbedaan tingkat intrusi di masing - masing daerah di Indonesia kemungkinan disebabkan oleh tingkat pemanfaatan air tanah yang berbeda-beda untuk tiap daerah, kepadatan penduduk, tidak adanya daerah resapan air, dan rusaknya vegetasi di daerah pantai khususnya vegetasi mangrove yang dapat menahan laju intrusi air laut.
Air tanah dangkal yang terintrusi air asin umumnya terdapat di wilayah - wilayah dengan kondisi lingkungan yang : (1) curah hujan yang kering, (2) sifat fisik tanah dan batuan yang lambat menyerap / meluluskan air, (3) letaknya dekat dengan pantai, (4) muka air tanah berada di bawah laut, (5) luas lahan yang pembangunannya tinggi, (6) penduduk nya padat.
Instrusi/penyusupan air asin menyebabkan kualitas air tanah menjadi terkontaminasi sehingga berubah dari tawar menjadi payau sampai asin. Untuk itu perlu segera diantisipasi terjadinya perluasan wilayah sebaran intrusi air asin, antara lain dengan mengetahui kondisi lingkungan wilayah sebaran intrusi air asin tersebut baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung.
Intrusi air laut juga diperburuk dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang membiarkan menjamurnya bangunan-bangunan tinggi di kota-kota besar, sehingga ruang terbuka hijau yang diharapkan dapat menampung air hujan menjadi air bawah tanah semakin minim. Tidak ada pemulihan air tanah karena banyaknya bangunan menutup permukaan tanah. Sehingga air hujan yang harusnya menyimpan air menjadi tumpah semuanya ke sungai dan bermuara ke laut. Di samping itu, intrusi air laut terjadi karena eksploitasi air tanah yang berlebihan.


Perembesan air laut ke daratan masih dianggap sebelah mata oleh masyarakat maupun pemerintah. Padahal, walaupun dampaknya tidak dirasakan secara langsung seperti pencemaran udara dan suara, untuk jangka panjang, rembesan air laut ke daratan akan menimbulkan kerugian yang sangat besar, baik dari segi lingkungan, kesehatan, bahkan ekonomi. Walaupun dampak intrusi akan muncul secara berkala dan untuk jangka waktu yang lama, jika didiamkan saja, tanpa ada upaya mencegahnya, tentu saja akan menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi masyarakat.
Untuk mengatasi intrusi air laut ini harus ada perhatian yang serius dari masyarakat, pengusaha dan dari pemerintah. Masyarakat harus mengerti arti kesehatan. Artinya, timbul kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah tidak membuang sampah ke sungai-sungai. Dengan menumpuknya sampah di sungai-sungai, maka akan menimbulkan endapan-endapan lumpur. Dan lumpur-lumpur tersebut akan terbawa ke laut tanpa bisa masuk ke dalam tanah sehingga dapat meningkatkan intrusi. Untuk pengusaha, adanya kesadaran lingkungan, terutama untuk hotel-hotel yang mengkonsumsi air yang cukup banyak. Banyak pengusaha hotel menggunakan sumur artesis untuk memenuhi kebutuhan airnya di hotel-hotel, padahal penggunaan sumur tersebut dapat membuat tanah di dalamnya menjadi bolong. Ini, tentu mengakibatkan perembesan air laut. Untuk pemerintah daerah,dengan melihat berbagai masalah yang ditimbulkan oleh intrusi air laut, maka sudah selayaknya membuat peraturan yang ketat tentang penggunaan air tanah, dan juga memberlakukan sangksi yang berat terhadap pelanggaran penggunaan air tanah, sehingga dapat mengatasi intrusi air laut yang berkepanjangan.
Kesimpulan
•Intrusi atau penyusupan air asin ke dalam akuifer di daratan pada dasarnya adalah proses masuknya air laut di bawah permukaan tanah melalui akuifer di daratan atau daerah pantai.
•Intrusi air laut di sebagian besar wilayah pantai di Indonesia disebabkan oleh penurunan muka air bawah tanah karena pemanfaatan air bawah tanah yang berlebihan.
•Intrusi air laut menyebabkan penurunan kualitas air tanah, mempengaruhi sifat fisik dan kimia tanah, kemunduran kearah darat batas antara perairan tawar dan payau dan perubahan profil dasar pantai.
Saran
Dengan meningkatnya permasalahan air bawah tanah di Indonesia yang semakin komplek, khususnya mulai terjadinya intrusi air asin ke daerah pantai, sudah selayaknya dilakukan usaha-usaha pengendalian dan pengawasan terhadap kelestarian lingkungan berupa program penyelamatan yang mendesak yaitu :
1.Mengurangi pemompaan air bawah tanah di daerah-daerah tertentu misalnya daerah pantai.
2.Memperketat pemberian izin pembuatan sumur bor.
3.Meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan pembuatan sumur bor.
4.Menambah cadangan air bawah tanah dengan pengisian buatan ("artificial recharge").
5.Membuat sumur bor pantau di tempat-tempat tertentu yang dilengkapi dengan pencatat muka air bawah tanah ("water level recorder").
DAFTAR PUSTAKA
Dahuri, R., ruis, ginting dan Sitepu (2004). Pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan secara terpadu. Pradnya paramita. Jakarta.
Hendrayana, H. 2002. Intrusi air asin ke dalam akuifer di daratan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Leboeuf (2004). Sea water Intrusion and associated in a small coastal complex aquifer. University of Almeria, E.04120 almeria, Spain.
Wuryanti, (2000). Indikasi kenaikan muka air laut pada kota pantai di kotamadya Surabaya. Prosiding. Studi dampak timbale balik antara pembangunan kota dan perumahan di Indonesia dan lingkungan global.
http://www. Sinar harapan.co.id/index .html ( Intrusi air laut )
http://www.ecy.wa.gov/climatchage/images/intrusion. (Saltwater intrusion)
http://www. Island country.net/aquifer.htm (Rising sea level)
http://www.solint.com/prod/3001/3001 d2.html (Pump/recharge rate effects salt water intrusion ground water management, monitoring and conservation keep intrusion under control)
http://www.cybertokoh.com/ (Intrusi air laut ancam sanur)
www.lenntech.com/seawater intrusion.htm (Seawater intrusion in ground water)
http://jurnal Brawijaya.ac.id (Intrusi air laut akibat pemompaan air tanah di daerah pantai)
http://www.pdpersi.co.id (Air payau akibat intrusi air laut)
http://blog.harian aceh.com (waspadai abrasi dan intrusi air laut)
Post By
Thailand aik aik
at
19.34.00
0
komentar
Label: Intrusi air laut
Rabu, 07 Oktober 2009
PROSES BIOSORPSI DAN DESORPSI ION Cr(VI) PADA BIOSORBEN RUMPUT LAUT Eucheuma spinosum
By. Fahri Muhammad 07
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian biosorpsi dan desorpsi kromium (VI) pada biosorben rumput laut Eucheuma spinosum. Penelitian ini meliputi penentuan keasaman biosorben, pH optimum, waktu kontak biosorpsi, isoterm dan kapasitas biosorpsi, serta mekanisme interaksi yang terjadi antara ion logam Cr(VI) dengan biosorben rumput laut Eucheuma spinosum melalui desorpsi oleh akuades, HCL 1 M dan Na2EDTA 0,05 M.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keasaman total dari biosorben rumput laut Eucheuma spinosum adalah 4,1545 ± 0,3290 mmol/g, pH optimum biosorpsi adalah pH 5 dan waktu kontaknya 120 menit. Kapasitas biosorpsi rumput laut Eucheuma spinosum terhadap ion logam Cr(VI) yaitu 13,4992 mg/g. Jumlah ion logam Cr(VI) yang terdesorpsi paling banyak oleh akuades yaitu sebesar 40,69%, sedangkan yang terdesorpsi oleh HCl 1 M dan Na2EDTA 0,05 M relatif kecil yaitu masing-masing sebesar 4,84% dan 0,20%. Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme yang dominan terjadi antara biosorben rumput laut Eucheuma spinosum dengan ion logam Cr(VI) adalah ikatan hidrogen dan ikatan Van der Waals yang relatif lemah.
Kata kunci : Biosorpsi, desorpsi, Eucheuma spinosum, kromium
ABSTRACT
Studies on biosorption and desorption of chromium (VI) on seaweed (Eucheuma spinosum) biosorben have been carried out. These studies included determination of biosorben acidity, optimum pH, contact time of biosorption, isoterm and biosorption capacity, and mechanisms of interaction between chromium (VI) and seaweed (Eucheuma spinosum) biosorben. Mechanisms of interaction were known with desorption chromium (VI) on seaweed biosorben using aquades, 1 M HCl and 0,05 M Na2EDTA.
The result showed that the total acidity of seaweed biosorben was 4,1545 ± 0,3290 mmol/g, the optimum pH was 5, and the contact time was 120 minute. Biosorption capacity of seaweed (Eucheuma spinosum) to chromium (VI) was 13,4992 mg/g. The highest desorption of chromium (VI) occurred with the use of aquadest which was 40,69%. Whereas desorption using 1 M HCl and 0,05 M Na2EDTA were 4,84% and 0,20% respectively. This case indicated that the main interaction mechanism of chromium (VI) on seaweed was hydrogen and Van der Waals bond which was relatively weak.
Keywords : biosorption, desorption, Eucheuma spinosum, chromium
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu negara bahari terbesar di dunia. Karakteristik geografis Indonesia serta struktur dan tipologi ekosistemnya yang didominasi oleh lautan telah menjadikan Indonesia sebagai pemilik keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Sumber daya kelautan merupakan kekayaan alam yang memiliki peluang besar untuk dimanfaatkan (Suhdi, 2004).
Salah satu sumber daya hayati kelautan yang dimiliki Indonesia adalah rumput laut. Rumput laut dibedakan menjadi yaitu Rhodophyceae (rumput laut merah), Phaeophyceae (rumput laut coklat), Chlorophyceae (rumput laut hijau), dan Chyanophyceae (rumput laut hijau-biru) (Munaf, 2000). Pemanfaatan rumput laut pada awalnya hanya sebagai sayuran saja baik itu diolah terlebih dahulu atau dimakan secara langsung. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, rumput laut telah dimanfaatkan sebagai pupuk, komponen makanan ternak, dan makanan ikan (Aslan, 1998). Disamping itu, produk ekstraksi rumput laut (seperti agar-agar, alginat, dan karaginan) banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan rumah tangga, bahan tambahan atau bahan baku dalam industri makanan farmasi, kosmetik, tekstil, kertas, cat, dan lain-lain. Pemanfaatan rumput laut masih perlu dikembangkan lagi agar memberikan nilai tambah, baik secara ekonomi maupun lingkungan (Anonim, 2003). Seiring dengan perkembangan teknologi rumput laut telah ditingkatkan pemanfaatannya sehingga memberikan nilai yang lebih tinggi. Salah satu pemanfaatannya adalah sebagai biomassa (biosorben) dalam proses biosorpsi logam berat dalam perairan (Indriani dan Akira, 1998). Biosorpsi merupakan proses penyerapan analit oleh biomassa. Biosorpsi memanfaatkan kemampuan material biologis untuk mengakumulasi logam berat dari larutan secara metabolisme ataupun fisik-kimiawi (Anonim, 2003).
Salah satu logam berat yang merupakan sumber polusi dan perlu dihilangkan dalam perairan adalah logam kromium (Cr). Pemanfaatan logam ini banyak digunakan dalam industri elektroplating, penyamakan kulit, pendingin air, pulp, serta proses pemurnian bijih dan petroleum. Menurut Surat keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, baku mutu limbah yang boleh dialirkan ke air permukaan untuk Cr(VI) sebesar 0,05-1 mg/L dan untuk Cr (total) sebesar 0,1-2 mg/L (Anderson, 1997). Oleh karena itu kandungan logam berat khususnya Cr dalam limbah industri yang melebihi ambang batas harus diminimalkan sebelum dibuang ke lingkungan
Salah satu metode untuk menurunkan kandungan logam kromium dalam air limbah adalah treatment sorpsi.Metode sorpsi yaitu melibatkan interaksi antara analit dengan permukaan zat padat (adsorben). Sorben yang sekarang ini banyak digunakan adalah dari bahan organik Beberapa contoh biosorben yang dapat digunakan dalam penanganan limbah kromium adalah chitosan (Veera, et al.,2003), serbuk gergaji (Shukla, et al., 2002), mikroalga (Cervantes, et al.., 2001), dan rumput laut (Indriani dan Akira, 1998).
Penggunaan rumput laut sebagai biosorben telah dilakukan oleh beberapa peneliti, Suhdi (2004) melakukan penelitian menggunakan rumput laut jenis sargasum sebagai biosorben terhadap logam Cr dengan kapasitas adsorpsi 35 mg/g. Indriani dan Akira (1998) menggunakan rumput coklat sebagai biosorben, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kapasitas adsorpsi rumput laut coklat terhadap logam berat sangat dipengaruhi oleh pH.
Rumput laut adalah nama umum dalam dunia perdagangan yang digunakan untuk menyebutkan kelompok alga laut yang hidup di dasar laut. Salah satu jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah Eucheuma spinosum. Kandungan kimia dari Eucheuma spinosum adalah iota karaginan (65%), protein, karbohidrat, lemak, serat kasar, air, dan debu. Iota karaginan merupakan polisakarida tersulfatkan dimana kandungan ester sulfatnya adalah 28-35%. Adanya atom sulfur (S) dan oksigen (O) pada ester sulfat, -OH dan –COOH pada polisakarida, merupakan situs-situs aktif tempat berinteraksinya suatu logam. Rumput laut jenis ini tergolong rumput laut merah yang banyak dibudidayakan di Indonesia khususnya di Bali terutama di pantai Sawangan Nusa Dua dan pantai Nusa Penida Bali. Rumput laut ini diekspor langsung dan digunakan sebagai bahan baku industri makanan, kosmetik, dan obat. Namun demikian, perlu dikembangkan lagi pemanfaatannya sehingga memberikan nilai tambah baik secara ekonomi maupun pemecahan masalah-masalah lingkungan terutama pencemaran logam berat (Atmaja, 1996).
Penelitian mengenai penggunaan rumput laut jenis Eucheuma spinosum sebagai biosorben untuk menghilangkan ion logam Cr(VI) belum dilakukan, sementara rumput laut jenis ini banyak dibudidayakan di perairan Indonesia khususnya di Bali. Oleh karena itu pada penelitian ini akan dipelajari beberapa aspek fundamental yang berkaitan dengan biosorpsi rumput laut Eucheuma spinosum terhadap logam Cr(VI) yang meliputi kapasitas adsorpsi, kemampuan desorpsi dan mekanisme interaksinya.
MATERI DAN METODE
Bahan
Bahan-bahan kimia yang digunakan adalah bahan-bahan kimia yang berkualitas analitik (analytical grade), meliputi K2Cr2O7, NaOH 1M, HCl 1 M, HNO3 1%, Na2EDTA 1 M, H2SO4 1 M, difinil karbasida 0,25 M, NH4OH 1 M, KMnO4 0,25 M, aseton, NaN3 0,08 M dan akuades.
Peralatan
Peralatan yang digunakan terdiri atas berbagai alat gelas, blender, timbangan analitik, kertas saring, kapsul pengaduk magnet, desikator, penggerus porselen, ayakan 250-106 μm, oven, pencatat waktu, bola hisap, seperangkat alat spektrofotometer UV-Vis Scomman S1000PC.
Cara Kerja
Penyiapan Biosorben
Rumput Laut Eucheuma spinosum yang telah disiapkan dan dibilas dengan akuades, dikeringkan. Setelah kering, rumput laut dipotong-potong, digerus dan diayak. Butiran rumput laut kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 1100C selama 1 jam dan disimpan dalam desikator.
Penentuan Keasaman Biosorben
Sebanyak 1,0000 gram butiran rumput laut dimasukkan ke Erlenmeyer 25 mL dan ditambahkan 25,0 mL larutan NaOH 1 M, erlenmeyer ditutup rapat dan diaduk selama 24 jam. Perlakuan yang sama dilakukan terhadap larutan blanko yang hanya mengandung 25,0 mL larutan NaOH 1 M. Setelah 24 jam campuran disaring dan residunya dibilas menggunakan akuades. Filtrat dan bilasan lalu dititrasi dengan larutan HCl 1 M yang telah dibakukan terlebih dahulu.
Penentuan pH Optimum
Ke dalam 5 buah erlemeyer 25 mL, dimasukkan masing-masing 0,5000 gram sampel butiran rumput laut Eucheuma spinosum dan ditambahkan 25,0 mL larutan Cr(VI) 200 ppm dengan pH larutan masing-masing 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 dengan penambahan HCl 1 M. Kemudian diaduk dengan pengaduk magnet selama 24 jam. Selanjutnya campuran disaring dan filtratnya dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer ultra violet - tampak.
Penentuan Waktu Kontak
Ke dalam 5 buah erlenmeyer 25 mL dimasukkan masing-masing 0,5000 gram sampel butiran rumput laut Eucheuma spinosum dan ditambahkan 25,0 mL larutan Cr(VI) 200 ppm dengan pH optimum yang diperoleh. Campuran diaduk selama 3, 6, 12, 24, 36, dan 48 jam. Selanjutnya disaring dan filratnya dianalisis dengan spektrofotometer ultra violet – tampak.
Penentuan Isoterm dan Kapasitas Biosorpsi
Ke dalam 5 buah erlenmeyer 25 mL dimasukkan masing-masing 0,5000 gram sampel butiran rumput laut Eucheuma spinosum dan ditambahkan 25,0 mL larutan Cr(VI) dengan konsentrasi berturut-turut 100, 200, 300, 500, dan 750 ppm, kemudian diinteraksikan selama waktu kontak dengan pH optimumnya. Setelah itu campuran disaring, dan filtratnya diukur dengan spektroforometer ultra violet – tampak. Pola isoterm biosorpsi diperoleh dengan membuat grafik hubungan antara konsentrasi logam Cr(VI) dalam larutan pada keseimbangan terhadap berat Cr(VI) yang terserap per gram sampel. Data pola isoterm biosorpsi diterapkan ke persamaan linear isoterm biosorpsi Langmuir dan dengan memplot C terhadap C/m, sehingga dapat ditentukan kapasitas biosorpsinya.
Rumusnya adalah :
C C 1
- = - + -
m b kb
Desorpsi
Sebanyak 2,0000 gram serbuk rumput laut direndam dalam 100 mL larutan Cr(VI) dengan konsentrasi optimum yang didapat, diaduk selama waktu setimbang dan dengan pH optimum. Selanjutnya campuran disaring dan residunya dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan direndam dengan akuades sebanyak 100 mL. Campuran kemudian diaduk selama 30 menit, setelah 30 menit larutan disaring kembali, filtratnya dianalisis dengan spektrofotometer ultra violet - tampak. Residunya direndam kembali dengan HCl 0,1 M sebanyak 100 mL sambil diaduk selama 6 jam. Selanjutnya disaring, filtrat yang didapat dianalisis kembali dengan spektrofotometer ultra violet - tampak. Residunya direndam dengan Na2EDTA 1 M sebanyak 100 mL sambil diaduk selama 14 jam. Campuran kembali disaring, filtrat yang didapat dianalisis dengan spektrofotometer ultra violet - tampak.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keasaman Biosorben.
Keasaman biosorben yang diperoleh adalah sebesar 4,1545 ± 0,3290 mmol/g. Penentuan keasaman dilakukan dengan metode titrasi asam basa, dimana situs asam biosorben direaksikan dengan basa (NaOH) berlebih. Sisa NaOH yang tidak bereaksi dengan sampel dititrasi dengan HCl 1 M sehingga jumlah zat-zat yang bereaksi, ekivalen satu sama lainnya. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
RH + NaOH berlebih → RNa + H2O + NaOHsisa
NaOH sisa + HCl → NaCl + H2O
Dimana R adalah makromolekul dan H adalah proton gugus (-COOH) atau gugus (-OH) yang bersifat asam. Situs asam yang ada pada biosorben berasal dari gugus (-COOH) dan atau (-OH) yang terdapat pada iota karaginan dan polisakarida yang terkandung pada rumput laut Eucheuma spinosum.
pH Optimum Biosorben
Penentuan pH optimum dilakukan untuk mengetahui pH interaksi dimana biosorben menyerap biosorbat secara maksimum. Hasil penelitian tentang pengaruh pH terhadap jumlah ion logam Cr(VI) yang terserap oleh biosorben rumput laut Eucheuma spinosum dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1 memperlihatkan pada pH 1 sampai 5 jumlah ion logam Cr(VI) yang terserap tiap gram biosorben cenderung konstan, tetapi setelah diatas pH 5 ion logam Cr(VI) membentuk endapan Cr(OH)3, sehingga jumlah Cr(VI) yang terserap pada biosorben berkurang.. Berdasarkan Gambar 1, pH 5 adalah pH optimum biosorpsi rumput laut Eucheuma spinosum terhadap ion logam Cr(VI) karena pada pH 5 ini, ion logam Cr(VI) terserap secara maksimum oleh biosorben Eucheuma spinosum yaitu sebesar 8,5152 mg/g. Oleh karena itu, pH 5 dijadikan acuan dalam penentuan waktu optimum dan isoterm dan kapasitas adsorpsi selanjutnya.
Waktu Kontak Biosorben
Penentuan waktu kontak biosorpsi dilakukan untuk mengetahui waktu minimum yang dibutuhkan oleh biosorben dalam menyerap ion logam Cr(VI) secara maksimum sampai tercapai keadaan jenuh.Berdasarkan hasil penelitian, hubungan antara banyaknya ion logam Cr(VI) yang terserap (mg) per gram biosorben terhadap waktu dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2 menunjukkan bahwa jumlah Cr(VI) yang terserap tidak stabil yaitu naik turun dengan bertambahnya waktu. Pada awal waktu interaksi sampai 12 jam jumlah ion logam Cr(VI) yang terserap terus meningkat dengan bertambahnya waktu interaksi. Akan tetapi setelah dinteraksikan selama 24 jam jumlah Cr(VI) yang terserap turun, dan selanjutnya cenderung stabil (konstan). Turunnya jumlah ion logam Cr(VI) yang terserap setelah pengadukan 24 jam kemungkinan disebabkan oleh ketidakstabilan ikatan antara biosorben rumput laut Eucheuma spinosum dengan ion logam Cr(VI) sehingga sebagian kecil dari partikel logam Cr(VI) ada yang terlepas kembali.
Dari hasil penelitian diperoleh pada waktu kontak 12 jam rumput laut Eucheuma spinosum dapat menyerap ion logam Cr(VI) paling besar dibandingkan waktu kontak yang lainnya yaitu sebesar 5,0638 mg/g. Oleh karena itu, waktu kontak selama 12 jam digunakan sebagai acuan dalam penentuan isoterm biosorpsi Cr(VI) selanjutnya.
Isoterm Biopsorpsi Cr(VI)
Penentuan isoterm biosorpsi ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ion logam Cr(VI) yang direaksikan terhadap jumlah ion logam Cr(VI) yang diserap oleh biosorben pada temperatur kamar. Berdasarkan hasil penelitian, hubungan antara jumlah Cr(VI) terserap (mg/g) terhadap konsentrasi awal Cr(VI) disajikan pada Gambar 3.
Pada grafik terlihat bahwa dengan bertambahnya konsentrasi biosorbat yang diinteraksikan, maka jumlah ion logam Cr(VI) yang terserap tiap gram rumput laut Eucheuma spinosum semakin bertambah juga. Akan tetapi pada konsentrasi Cr(VI) 500 ppm jumlah biosorbat yang terserap tidak bertambah dengan meningkatnya konsentrasi dan cenderung konstan sampai konsentrasi Cr(VI) mencapai 750 ppm. pola isoterm biosorpsi yang diperoleh sesuai dengan Gilles dan Mac Edwan, diklasifikasikan sebagai isoterm biosorpsi tipe L yang lebih dikenal dengan isoterm Langmuir. Pola isoterm ini memperlihatkan afinitas yang relatif tinggi antara zat terlarut (ion logam Cr(VI)) dengan biosorben pada tahap awal dan selanjutnya konstan.
Kapasitas Biosorpsi Cr(VI)
Kapasitas biosorpsi rumput laut Eucheuma spinosum terhadap ion logam Cr(VI) dihitung dengan menggunakan pendekatan biosorpsi Langmuir. Data biosorpsi yang didapatkan pada penentuan isoterm biosorpsi diterapkan ke persamaan isoterm adsorpsi Langmuir. Berdasarkan hasil penelitian, kurva linier antara C/m dan C yang diperoleh disajikan pada Gambar 4.
Nilai b dan K dapat ditentukan dari grafik di atas masing- masing dicari dari slope dan intersep kurva. Dengan mensubstitusi nilai K, besarnya energi biosorpsi yang sebanding dengan perubahan energi bebas Gibbs (ΔGoads), dihitung menggunakan persamaan E = ΔGoads = - RT ln K. Berdasarkan hasil penelitian, didapat nilai E = -14,4053 KJ/mol. Nilai (-) menunjukan bahwa proses biosorpsi berlangsung spontan dan bersifat eksoterm, terjadi pembentukan ikatan baru. Dengan melihat nilai dari ΔGoads maka dapat dikatakan bahwa jenis biosorpsi yang terjadi antara ion Cr(VI) dengan rumput laut Eucheuma spinosum adalah biosorpsi fisika. Hal ini juga didukung dari nilai kapasitas dari rumput laut Eucheuma spinosum terhadap ion logam Cr(VI) yang sangat kecil yaitu sebesar 13,4992 mg/g.
Desorpsi
Hasil desorpsi dengan menggunakan akuades, HCl 1 M, dan Na2EDTA 0,05 M disajikan pada Tabel 1.
Berdasarkan hasil ketiga tahap desorpsi yang dilakukan, didapatkan jumlah ion logam Cr(VI) yang paling banyak terdesorpsi adalah dengan menggunakan akuades yaitu sebesar 40,69 % sedangkan dengan HCl 1 M dan Na2EDTA sangat sedikit yaitu 4,84 % dan 0,20 %. Hal ini mengindikasikan bahwa interaksi yang mendominasi pada proses biosorpsi ion logam Cr(VI) pada biosorben rumput laut Eucheuma spinosum adalah ikatan hidrogen dan ikatan Van der Waals.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Kapasitas biosorpsi rumput laut Eucheuma spinosum terhadap ion logam Cr(VI) adalah sebesar 13,4992 mg/g dan energi adsorpsinya sebesar - 14,4053 KJ/mol.
2. Jumlah ion logam Cr(VI) yang terdesorpsi oleh akuades adalah 6,8505 mg/g (40,69%), terdesorpsi oleh HCl 1 M adalah 0,7824 mg/g (4,84%), dan terdesorpsi oleh Na2EDTA adalah sebesar 0,0286 mg/g (0,20%).
3. Mekanisme interaksi yang dominan terjadi pada biosorpsi Cr(VI) oleh rumput laut Eucheuma spinosum adalah ikatan hidrogen dan ikatan Van der Waals.
Saran
Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap kemampuan biosorpsi rumput laut Eucheuma spinosum teraktivasi asam terhadap ion logam Cr(VI), serta perlu juga dilakukan penelitian untuk mengetahui kapasitas biosorpsi rumput laut Eucheuma spinosum terhadap logam-logam berat lainnya.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih penulis ucapkan kepada Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional yang telah memberikan dana penelitian ini dan semua pihak yang telah membantu dalam penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2003, Biosorption, http://biosorption. mcgill.ca/BT/BTbrief.htm, 29 Mei 2007
Anderson, R. A., 1997, Chromium As an Essential Nutrient for Human, Reg. Toxico Pharmacol, 26 : 534-541
Aslan, L. M., 1998, Budidaya Rumput Laut, Kanisius, Yogyakarta
Atmaja, W. S., Kadi, A., Sulistijo, dan Satari, R., 1996, Pengenalan Jenis-Jenis Rumput Laut Indonesia, Puslitbang Oseonologi LIPI, Jakarta
Cervantes, C., Compos-Garcia, J., Silvia, D., Corona, F. G., Tavera, H. L., Gusman, J., and Sanchez, R. M., 2001, Interaction of Chromium with Microorganisms and Plant, FEMS Microbiology Reviews, 25 : 335-347
Indriani Seki, H. and Akira Suzuki, 1998, Biosorption of Heavy Metal Ions to Brown Algae, Macrocystis pyrifera, Kjellmamiella crassiforia, and Undaria pinnatifida, Jurnal of Colloid and Interface Science, 206 : 297-301
Munaf, D. R., 2000, Rumput Laut Komoditi Unggulan, Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah, LIPI, Jakarta
Shukla, A., Zhang, Y. H., Dubey, P., Margravw, J. L., and Shukla, S., 2002, The Role of Sawdust in the removal of unwanted materials from water, J. of Hazardous Materials, 95 : 137-157
Suhdi, 2004, Budidaya dan Pengolahan Rumput Laut, Buku 5, Balai Riset dan Standarisasi Industri dan Perdagangan (Baristand Indag), Surabaya
Veera, M. B., Krishnalah, A., Jonathan, L. T., and Edgar, D. S., 2003, Removal of Hexavalent Chromium from Wastewater Using a New Composite Chitosan Biosorben, Environ, Sci. Technol., 37 : 4449-4456
Reff from :
N. P. Diantariani, I W. Sudiarta, dan N. K. Elantiani
Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana, Bukit Jimbaran
Post By
Thailand aik aik
at
03.02.00
0
komentar
Label: bioasorpsi dan desorpsi
Socio-Political Strategies Of Marine Protected Area
By, Fahry Muhammad 05
Effective Socio-Political Strategies That Help Support Ecological Resilience Of Marine Protected Area Networks Within The Coral
Triangle
The Coral Triangle is the global center of marine biodiversity and one of the world’s top priorities for conservation. Various organizations and partner groups are working to establish networks of Marine Protected Area (MPAs) within the Coral Triangle. Network designs are generally based on scientific principles of resilience, whereby focus is based on reefs that are most likely to survive threats. Criteria to form networks include among others:
(1) protecting a representative range of habitat
types and replicating these at multiple locations to spread the risk of habitat loss;
(2) protecting coral communities that are resistant to bleaching;
(3) understanding coral reef connectivity to other ecosystems and processes, and;
(4) increasing management effectiveness of controllable/human factors. In this light, the “Marine Learning Partnership” Project (LMPP), involving four global NGOs, is working towards a framework for tropical marine conservation that emphasizes
resilient and representative MPA networks.
The objective of LMPP is to improve conservation field practice in scaling up from MPA sites to ecological networks, by generating and disseminating knowledge
through inter-organizational collaboration. This required capturing and analyzing experiences gained among institutions working in six sites across countries through: (1) a survey using standard forms targeting MPA managers and primary stakeholders, and;
(2) a stakeholder learning workshop involving representatives from participating
countries. Since, ecological networking is relatively new, LMPP sites serve as “reality laboratories”.
We are realizing that certain initial sociopolitical arrangements are needed to support and sustain MPA network initiatives to achieve ecological resilience and economic benefits. The most effective socio-political approach taken by each of the six study sites will be presented to serve as models for others to learn from,
considering various political set-ups and cultures across countries.
from :
Anna MENESES*1, Alan WHITE2, Stuart GREEN3, Stacey KILARSKI4, Patrick CHRISTIE5
1Global Marine Initiative, The Nature Conservancy, Calamba City,Laguna, Philippines, 2Global Marine Initiative, The Nature Conservancy, Kailua, HI,
3Global Marine Initiative, The Nature Conservancy, Tagbilaran City, Bohol, Philippines,
4Global Marine Initiative, The Nature Conservancy, Honolulu, HI, 5School of Marine
Affairs and Jackson School of International Studies, University of
Washington, Seattle, WA
Post By
Thailand aik aik
at
02.44.00
0
komentar
